Informasi

/

ANDRENALN BERNEGARA

Rabu, 26 Juli 2017 - 09:34 WIB
Diposting oleh: Administrator - Kategori: OPINI

Saat ada seseorang atau sekelompok orang, yang mereka ini berstatus elitis politik atau kekuasaan, namun terjerumus dalam perbuatan tercela dan melanggar hukum,  yang karena perbuatannya itu, mereka terkena sanksi masuk penjara bertahun-tahun, semestinya oleh seluruh elemen bangsa, terutama yang berstatus elitis, mereka  ini ditempatkan sebagai “sejarah”. 

“Bangsa hebat adalah bangsa yang tidak kenal berhenti dalam belajar sejarah,” demikin ungkap Frederick Nick, yang sejatinya mengingatkan, bahwa sudah banyak bangsa-bangsa di muka bumi ini yang melahirkan banyak generasi hebat yang sukses menorehkan tinta emas, yang kesuksesannya ini tidak lepas dari kemauan dan kemampuannya dalam membaca dan meneladani para pendahulunya.

Generasi pendahulu dijadikannya sebagai “adrenalin” moral untuk membangun mental kenegarawanan, dan bukan membentuk diri menjadi sosok generasi bermental pengkhiatan bangsa atau berafiliasi pada berbagai ragam praktik pembusukan nilai.

Ada banyak generasi pendahulu yang sukses menunjukkan sikap integritas moral atau jiwa nasionalismenya. Mereka sungguh-sunguh berkreasi dan berinovasi, serta sangat militan dalam mementingkan pengabdiannya untuk pertiwi daripada mencari kepuasan instan dan hedonis hanya demi diri sendiri atau kroninya.

Banyak generasi pendahulu di berbagai negara yang sukses telah menjadi sumber inspirasi dan pembentuk mental gerenasi yang mau meneladaninya. Para generasi terdahulunya sukses menempatkan dirinya sebagai guru yang pantas dijadikan obyek bacaan generasi kemudian. 

Berbedanya dengan di negeri ini, para “orang tua” atau komunitas  elitis yang berstatus pilar-pilar bangsa, tidak sedikit yang memproduksi ujaran-ujaran dan perbuatan-perbuatan yang mendestruksi keragaman, menciptakan  kebencian (misoginisme), dan menyemaikan perilaku yang intoleran dan berbagai model penyalahgunaan kekuasaan,

“Membuat sesuatu yang mudah menjadi rumit itu sudah biasa, tetapi membuat sesuatu yang rumit itu menjadi mudah itu yang disebut kreatifitas”, demikian pernyataan  Charles Mingus, yang sejatinya mengingatkan setiap elemen bangsa di dunia, supaya jadi pekerja keras dan bersyahwat jadi pemenang, dan bukan sekedar bisa bermain tapi tanpa kreatifitas. 

Dalam ranah pemikiran Mingus ini,  “Orang tua” di negeri ini belum memberikan contoh bersejarah mengenai cara dan mendisain diri bukan hanya jadi sosok kreatif di ranah kehidupan bernegara, tetapi juga di ranah sosial-kemanusiaan. Mereka belum menunjukkan dirinya sebagai komunitas elitis berderajat negarawan yang dibuktikan lewat “karya-karyanya” di tengah masyarakat.

Mereka tidak memosisikan dirinya sebagai subyek fundamental yang menginspirasi anak-anak muda untuk menjadi kader hebat, dan  sebaliknya menginspirasi atau bahkan secara tidak langsung memberikan “teladan” untuk memproduksi dan mengulturkan pola-pola deviasi dan “subversi” structural (birokrasi) dalam bernegara 

. Mereka itu tidak memberikan adrenalin pada bibit bangsa itu dalam membangun kehidupan bernegara yang benar. Mereka tidak mengajarinya sebagai “pemain” yang beretos kerja tinggi dan berkejujuran dalam membangun bangsa ini..Terbukti, belum lama menjadi PNS, tidak sedikit diantaranya yang berurusan dengan hukum gara-gara melakukan korupsi.

Kalau tidak melakukan korupsi dalam arti penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), mereka melakukan korupsi dalam arti mengidap krisis etos kerja, pemalas, amanat kerja dijalankan asal-asalan, atau indisiplinernya sangat tinggi, yang kondisi ini disebut oleh Gunnar Myrdal sebagai ciri khasnya negera lembek  (soft state).

Fakta gampang terbaca, kalau stigma Myrdal itu tidak salah. Nyatanya dalam dunia birokrasi kita, para birokrat terseret dalam atmosfir yang sudah terbiasa menjadikan hal yang mudah menjadi sulit. Pekerjaan yang semestinya ringan, akhirnya berat untuk dilaksanakan dan diselesaikan gara-gara kita membiarkannya sebatas kerikil yang sekali tendang bisa beres. 

Birokrat kita gampang terjebak dalam sikap seperti: kalau yang kecil tidak akan mungkin dapat mendatangkan masalah besar. Mereka gampang berujar “itu urusan kecil”, padahal dari soal yang kecil ini potemsial mampu menghadirkan kesulitan  besar di belakang hari, jika terus menerus tarabaikan. 

Melakukan “sedikit” pungli kepada peminta jasa layanan publik misalnya dianggapnya sebagai “kebiasaan” kecil, padahal praktik ini merupakan wujud “pembibitan korupsi”, yang jika terus terbiarkan, jelas-jelas akan menjadi “adrenalin”  dalam mensistematisasikan dan menstrukturisasikan korupsi. 

Beberapa pemimpin kita pun, memang lebih sering berujar kalau negara ini besar, namun faktanya, mereka tidak berusaha keras membuktikan kebesarannya,dan sebaliknya secara gradualitas melakukan pengeroposan konstriksinya dengan berbagai ragam perbuatan tercela dan melanggar hukum negara..

Jika elite  kita mau membuka nalar cerdas dan nurani beningnya, sejatinya semestinya setiap orang yang menduduki kursi empuknya atau diberi amanat untuk bermain dalam lapangan kekuasaan apapun supaya tidak gampang gandrung mempermainkan atau “mengecilkan” kesejatian amanat hajat publik.

Keberadaban pemimpin dalam mengelola segala sumberdaya negara, jelas  merupakan “investasi amanat” yang dipercayakan kepadanya, yang merupakan sumber fundamental dalam membesarkan kehidupan bangsa ini, teristimewa dalam ranah membangun mental anak-anak muda supaya menjadi negarawan muda.

Komunitas elitis memang belum bergiat diri menjadi elemen bangsa yang menghadirkan kemajuan dan pencerahan. Kita belum totalitas memberikan adrenalin kepada semua lini kehidupan bernegara supaya “berjihad” melawan dan mengalahkan segala jenis penyakit. 

Kalau kita berobsesi menjadi bangsa besar, tentulah setiap unsur masyarakat atau pelaku sejarahnya harus punya keberanian memunculkan ide-ide besar, mengagrekasikan perubahan, dan menunjukkan aktifitas humanistik dan berkejujuran yang memberikan kemajuan berlandaskan kebersamaan dan mengalahkan egoisme sektoral, sikap neofeodalistik, dan kepentingan eksklusifitas kelompok. 

Idealnya, setiap unsur  bangsa negeri ini, tidaklah boleh kecil nyali, apalagi sampai mengalami darurat militansi atau mengidap “kefakiran” keberanian, dalam menghidupkan dan menyalakan semangat dan aksi bertemakan perubahan besar-besaran guna menjadi negarawan di lini apapun. 

Darurat militansi atau krisis keberanian meninggalkan beragam penyakit deviasi tidak boleh berlanjut menjangkiti  bangsa ini, pasalnya jika tidak terdekonstruksi, maka bangsa ini akan semakin sulit menemukan calon pemimpin masa mendatang yang memenuhi kriteria negarawan..

Usaha keras dan kolektif dibutuhkan untuk mengurai kesulitan (hidup bernegara yang berpenyakitan) menjadi kemudahan. Bangsa yang besar berembrio dari kegigihan atau militansi setiap elemennya, khususnya dari elit pemimpinnya dalam mengeliminasi setiap kesulitan menjadi jalan lempang menuai kesuksesan. 

Negeri ini kaya sumberdaya manusia andal )potensial), namun begitu mulai bersinar, mereka tak lagi mampu mengkreasikan bakat-bakat terpendamnya akibat dikalahkan oleh atmosfir sistem dan budaya politik pengorganisasian yang tidak memacu adrenalin positip, dan sebaliknya adrenalis yang memacu progresifitas kriminalitas atau ragam penyakit bangsa.

Oleh :
Abdul Wahid, Wakil Direktur I Bidang Akademik Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan Pengurus AP-HTN/HAN

Artikel ini diambil dari malang post, Senin 24 juli 2017